SALES
Apa yang ada di bayangan teman-teman jika mendengar kata sales?
Orang berpakaian rapi dengan kemeja garis-garis, berdasi membawa tas besar dengan keringat bercucuran karena mobil perusahaannya AC nya rusak, menawarkan penyedot debu dari rumah ke rumah?
Ada di level ke berapa seorang sales itu dalam strata pekerjaan yang ada di bayangan teman-teman?
Level paling bawah sendiri? Atau level yang sejajar dengan kasta Paria dalam Hindu?
Upss, Gawat sekali itu...
Predikat apa yang teman-teman sematkan kepada orang-orang yang bertugas "berjualan"?
Jika teman-teman sudah terlanjur menyematkan predikat bahwa "berjualan" itu adalah pekerjaan yang tidak berpendidikan atau tidak butuh keahlian khusus atau apa pun yang meletakkan orang-orang di bagian penjualan itu satu level lebih rendah daripada ilmuwan, insinyur bangunan, ataupun dokter, saya mohon dengan sangat, teman-teman melepaskan pikiran itu sejenak dan membuka luas pikiran teman-teman.
Ini adalah pandangan saya:
KITA adalah PRODUK.
KITA adalah SALES dari PRODUK bermerk KITA.
KITA adalah SALES dari PRODUK bermerk AUF.
KITA adalah SALES dari PRODUK bermerk (isi dengan nama teman-teman sendiri.)
Bagi teman-teman yang sudah mengenal saya, baru mengenal saya, atau baru nge-add, atau sebatas tau nama saya, saya mau sedikit bertanya dan teman-teman cukup menjawab dalam hati saja, AUF itu seperti apa sih orangnya?
Bagi teman-teman yang sudah mengenal saya, baru mengenal saya, atau baru nge-add, atau sebatas tau nama saya, saya mau tanya, AUF itu seperti apa sih orangnya dibandingkan dengan orang lain?
Sekarang bagaimana dengan Facebook?
Bagi taman-teman yang menggunakan Facebook, dalam hati saja, seperti apakah Facebook itu?
Bagi teman-teman yang menggunakan Facebook dan juga menggunakan situs jejaring lain, apa keunggulan Facebook dibanding situs lain?
Biar lebih mudah coba di jabarkan secara tertulis, misal seperti ini:
AUF:Ganteng, bijaksana, suka menolong
AUF dibandingkan dengan X (misalnya):Lebih ganteng AUF, lebih pintar AUF, lebih cerdas AUF.
Facebook:Elegan, mature, komplit.
Facebook dibandingkan dengan situs X,Lebih mudah Facebook pengoperasiannya, lebih komplit Facebook fitur-fiturnya, lebih menyenangkan Facebook pengoperasiannya.
Sudah mulai merasa bahwa DIRI KITA adalah PRODUK?
Lalu jika teman-teman sudah memahami bahwa DIRI KITA adalah PRODUK, siapa yang akan "menjual" PRODUK ini?
Diri Sendiri? Itu pasti bukan?
Orang lain? Itu juga pasti.
Lho, kok orang lain juga ikut-ikutan jualan saya? Memang saya ini laki-laki apaan?
Hehehehe, tenang dulu jangan negatif thinking. Saya punya sedikit cerita tentang menjadikan diri saya PRODUK.
Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kerjaan yang mengejutkan, MENJADI JURI FESTIVAL BAND! Sepanjang karier saya bermusik, baru kali ini saya menjadi juri festival band. Sungguh lucu karena band saya sendiri dari pertama kali terbentuk hingga sekarang belum pernah yang namanya menang dalam festival band. Boro-boro menang, lolos aja jarang, hehehe. Tapi kali ini saya mendapatkan kebanggan menjadi sebuah juri festival band yang diadakan Sebuah SMA di Yogyakarta. Saya dipilih menjadi juri festival band karena alasan-alasan sebagai berikut:
1. Saya punya majalah musik, DAB MAGAZINE (YOGYAKARTA”S FINEST MUSIC MAGAZINE.) Kebetulan SMA itu menjadi salah satu Pick up point majalah saya.
2. Saya personil dari OHNINA! Ini pengaruhnya memang tidak begitu banyak bagi peserta karena kebanyakan tidak tahu band saya (bahkan mungkin teman-teman yang membaca tulisan ini) tapi nanti akan ada cerita seru lagi tentang band saya.
Dari sini ternyata saya dianggap sebagai sebuah PRODUK yang tepat untuk menjadi juri festival band. Image dari produk AUF adalah orang yang berpengalaman di bidang musik. AUF mudah didapatkan karena ada nomor hape yang bisa dihubungi dan jika di sms mbales. Serta berbagai keunggulan lain yang ditawarkan oleh PRODUK bernama AUF.
Saya tidak menjadi juri sendiri, saya ditemani Dimas Widiarto Creative Director dari DAB MAGAZINE (YOGYAKARTA’S FINEST MUSIC MAGAZINE), dan seorang juri lain dari SMA tersebut. Dari ketiga juri ini tidak ada satupun yang sarjana musik, jebolan sekolah musik atau mentok-mentok lulusan les-lesan musik=D Ternyata hal yang terakhir ini menjadi masalah bagi beberapa peserta yang belum menang dalam festival ini. Mereka menganggap hasil penjurian itu cukup controversial karena band yang juara 3 (maaf saya lupa nama bandnya) dianggap tidak layak untuk menjadi juara 3 dan manajemen dari peserta yang protes ini menganggap bandnya lah yang pantas menjadi juara 3 (padahal di catatan saya band ini malah di peringkat ke 7, hehehe). Ada komentar mereka yang menjadi pelecut semangat saya yang bunyinya kira-kira seperti ini:”Wah, maaf saja, Juri nya tidak ada yang SARJANA MUSIK sih, jadi hasilnya juga sembarangan, tidak tahu yang mana yang fals atau yang tidak.”
Ada 2 pemikiran yang langsung muncul dalam benak saya waktu itu. Satu, jika yang jadi juri itu Eross Chandra (Sheila on 7) atau Pongki Barata (Jikustik) tentu SARJANA MUSIK tidak lagi diperlukan. Ini menjadi koreksi bagi saya sendri karena produk AUF kurang dikenal dan dianggap tidak kompeten oleh beberapa orang, meskipun band saya jauh lebih keren dari dua band di atas (menurut saya sendiri=) dengan berhasil mendapatkan 4 Label Rekaman (Blossom Records, Bon Vivant Records, Series Two Records, dan Edition 59) dari 4 Negara (Indonesia, Spanyol, USA, dan Jerman) di 3 Benua yang berbeda dalam waktu 1 tahun.
Dua, orang masih terjebak di gelar kesarjanaan untuk menghasilkan sebuah karya. Jangan salah sangka dulu, saya pun pada bulan april 2010 ini akan mendapatkan gelar sarjana S1 saya dan saya menjunjung tinggi pendidikan. Tapi dalam hal ini, gelar sarjana TIDAK MENJAMIN orang menjadi sukses. Sekarang saya tanya, musisi mana yang dibelakangnya ada gelar S.Sn (Sarjana Musik)? Atau ada berapa banyak musisi, di Indonesia saja lah, yang jualan lagunya meledak, yang punya gelar SARJANA MUSIK? Paling bisa di hitung dengan jari. Saya tidak merendahkan teman-teman yang punya gelar SARJANA MUSIK yang memang memilih untuk mengajar atau tidak berkecimpung di industri musik. Tapi ini adalah REALITA yang harus kita semua akui. Sebagus apapun kita membuat PRODUK, akan menjadi OMONG KOSONG jika kita tidak bisa menjualnya. Ada yang tahu band Vierra, yang personilnya anak dari pasangan Addie MS dan Memes? Sepengamatan saya, vokalis Vierra jika main live (bahkan di TV nasional) suarnya tidak pernah tidak fals a.k.a selalu fals! Tapi dalam jualan musiknya, saya setuju bahwa mereka bisa JUALAN musiknya. Bisa menjadi SALES bagi band mereka dan bagi diri mereka sendiri.
Kadang kita memang susah untuk MENJUAL diri kita karena kita terbentuk dengan lingkungan yang menyamarkan rendah hati dengan rendah diri. Beberapa bulan yang lalu saya melakukan beberapa interview akan calon AE untuk DAB MAGAZINE (YOGYAKARTA’S FINEST MUSIC MAGAZINE.) Kebanyakan dari calon-calon AE ini selalu kesulitan jika di beri pertanyaan apa keunggulan mereka dan kenapa saya harus menerima mereka? Bahkan ada beberapa yang dating dengan rasa tidak percaya diri ketika interview. Waw, saya sangat terkejut! Jika mereka saja tidak percaya dengan diri mereka sendiri, bagaimana saya dan teman-teman di DAB MAGAZINE (YOGYAKARTA’S FINEST MUSIC MAGAZINE) bisa memberi kepercayaan dengan mereka?
Pada awal tulisan ini saya membuat opini tentang produk bernama AUF dengan definisi Ganteng, bijaksana, suka menolong, karena saya ingin membentuk citra yang positif dan saya yakin dengan diri saya sendiri bahwa saya bisa menjadi positif. Dulu saya sering dianggap orang yang sombong, arogan, angkuh dll oleh beberapa teman. Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada teman-teman saya yang menyematkan predikat itu kepada saya karena saya jadi bisa membedakan antara SOMBONG dan MENJUAL DIRI. Pemahaman saya tentang sombong dan menjual diri antara lain sebagai berikut. Sombong tidak akan mendapatkan hasil apapun. Menjual diri akan mendapatkan hasil yang menguntungkan bagi diri sendiri dan orang lain. Contoh sederhana ketika dalam CV kita ketika melamarkerja, kita menuliskan berbagai macam keunggulan kita misalnya, berjiwa pemimpin, suka tantangan, rajin, tapi tidak ada satupun pengalaman yang mendukung keunggulan kita (pengalaman kerja, mupun organisasi), itu berarti kita sombong. Tetapi lain halnya jika kita menulis, pekerja keras, supel, ulet, lalu kita bisa memberikan lampiran pengalaman yang mendukung itu, itu artinya menjual diri.
Suka atau tidak suka, kita sebenarnya akan selalu menjadi PRODUK dalam keseharian kita, siapapun kita, dokter, dosen, arsitek, mahasiswa, musisi, anak, ibu rumah tangga,bahkan presiden. Entah itu dengan keluarga, teman atupun diri sendiri. Jadi jika kamu ingin PRODUK itu “laris,” mulailah belajar MENJUALNYA karena seperti saya bilang tadi "Sebagus apapun kita membuat PRODUK, akan menjadi OMONG KOSONG jika kita tidak bisa MENJUALNYA."
Jadi bagaimana? Apakah teman-teman sudah siap menjadi SALES?
Atau jika kata SALES masih terkesan “rendah” bisa kita ubah menjadi MARKETING MANAGER. Karena ada beberapa teman yang mungkin minder jika disebut sebagai SALES. Dengan menjadi MARKETING MANAGER paling tidak, kita sudah punya satu orang yang kita MANAGE dan kita PASARKAN, yaitu DIRI KITA SENDIRI=)
[Gunung Sempu, 15032010 1015-1241]
Apa yang ada di bayangan teman-teman jika mendengar kata sales?
Orang berpakaian rapi dengan kemeja garis-garis, berdasi membawa tas besar dengan keringat bercucuran karena mobil perusahaannya AC nya rusak, menawarkan penyedot debu dari rumah ke rumah?
Ada di level ke berapa seorang sales itu dalam strata pekerjaan yang ada di bayangan teman-teman?
Level paling bawah sendiri? Atau level yang sejajar dengan kasta Paria dalam Hindu?
Upss, Gawat sekali itu...
Predikat apa yang teman-teman sematkan kepada orang-orang yang bertugas "berjualan"?
Jika teman-teman sudah terlanjur menyematkan predikat bahwa "berjualan" itu adalah pekerjaan yang tidak berpendidikan atau tidak butuh keahlian khusus atau apa pun yang meletakkan orang-orang di bagian penjualan itu satu level lebih rendah daripada ilmuwan, insinyur bangunan, ataupun dokter, saya mohon dengan sangat, teman-teman melepaskan pikiran itu sejenak dan membuka luas pikiran teman-teman.
Ini adalah pandangan saya:
KITA adalah PRODUK.
KITA adalah SALES dari PRODUK bermerk KITA.
KITA adalah SALES dari PRODUK bermerk AUF.
KITA adalah SALES dari PRODUK bermerk (isi dengan nama teman-teman sendiri.)
Bagi teman-teman yang sudah mengenal saya, baru mengenal saya, atau baru nge-add, atau sebatas tau nama saya, saya mau sedikit bertanya dan teman-teman cukup menjawab dalam hati saja, AUF itu seperti apa sih orangnya?
Bagi teman-teman yang sudah mengenal saya, baru mengenal saya, atau baru nge-add, atau sebatas tau nama saya, saya mau tanya, AUF itu seperti apa sih orangnya dibandingkan dengan orang lain?
Sekarang bagaimana dengan Facebook?
Bagi taman-teman yang menggunakan Facebook, dalam hati saja, seperti apakah Facebook itu?
Bagi teman-teman yang menggunakan Facebook dan juga menggunakan situs jejaring lain, apa keunggulan Facebook dibanding situs lain?
Biar lebih mudah coba di jabarkan secara tertulis, misal seperti ini:
AUF:Ganteng, bijaksana, suka menolong
AUF dibandingkan dengan X (misalnya):Lebih ganteng AUF, lebih pintar AUF, lebih cerdas AUF.
Facebook:Elegan, mature, komplit.
Facebook dibandingkan dengan situs X,Lebih mudah Facebook pengoperasiannya, lebih komplit Facebook fitur-fiturnya, lebih menyenangkan Facebook pengoperasiannya.
Sudah mulai merasa bahwa DIRI KITA adalah PRODUK?
Lalu jika teman-teman sudah memahami bahwa DIRI KITA adalah PRODUK, siapa yang akan "menjual" PRODUK ini?
Diri Sendiri? Itu pasti bukan?
Orang lain? Itu juga pasti.
Lho, kok orang lain juga ikut-ikutan jualan saya? Memang saya ini laki-laki apaan?
Hehehehe, tenang dulu jangan negatif thinking. Saya punya sedikit cerita tentang menjadikan diri saya PRODUK.
Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kerjaan yang mengejutkan, MENJADI JURI FESTIVAL BAND! Sepanjang karier saya bermusik, baru kali ini saya menjadi juri festival band. Sungguh lucu karena band saya sendiri dari pertama kali terbentuk hingga sekarang belum pernah yang namanya menang dalam festival band. Boro-boro menang, lolos aja jarang, hehehe. Tapi kali ini saya mendapatkan kebanggan menjadi sebuah juri festival band yang diadakan Sebuah SMA di Yogyakarta. Saya dipilih menjadi juri festival band karena alasan-alasan sebagai berikut:
1. Saya punya majalah musik, DAB MAGAZINE (YOGYAKARTA”S FINEST MUSIC MAGAZINE.) Kebetulan SMA itu menjadi salah satu Pick up point majalah saya.
2. Saya personil dari OHNINA! Ini pengaruhnya memang tidak begitu banyak bagi peserta karena kebanyakan tidak tahu band saya (bahkan mungkin teman-teman yang membaca tulisan ini) tapi nanti akan ada cerita seru lagi tentang band saya.
Dari sini ternyata saya dianggap sebagai sebuah PRODUK yang tepat untuk menjadi juri festival band. Image dari produk AUF adalah orang yang berpengalaman di bidang musik. AUF mudah didapatkan karena ada nomor hape yang bisa dihubungi dan jika di sms mbales. Serta berbagai keunggulan lain yang ditawarkan oleh PRODUK bernama AUF.
Saya tidak menjadi juri sendiri, saya ditemani Dimas Widiarto Creative Director dari DAB MAGAZINE (YOGYAKARTA’S FINEST MUSIC MAGAZINE), dan seorang juri lain dari SMA tersebut. Dari ketiga juri ini tidak ada satupun yang sarjana musik, jebolan sekolah musik atau mentok-mentok lulusan les-lesan musik=D Ternyata hal yang terakhir ini menjadi masalah bagi beberapa peserta yang belum menang dalam festival ini. Mereka menganggap hasil penjurian itu cukup controversial karena band yang juara 3 (maaf saya lupa nama bandnya) dianggap tidak layak untuk menjadi juara 3 dan manajemen dari peserta yang protes ini menganggap bandnya lah yang pantas menjadi juara 3 (padahal di catatan saya band ini malah di peringkat ke 7, hehehe). Ada komentar mereka yang menjadi pelecut semangat saya yang bunyinya kira-kira seperti ini:”Wah, maaf saja, Juri nya tidak ada yang SARJANA MUSIK sih, jadi hasilnya juga sembarangan, tidak tahu yang mana yang fals atau yang tidak.”
Ada 2 pemikiran yang langsung muncul dalam benak saya waktu itu. Satu, jika yang jadi juri itu Eross Chandra (Sheila on 7) atau Pongki Barata (Jikustik) tentu SARJANA MUSIK tidak lagi diperlukan. Ini menjadi koreksi bagi saya sendri karena produk AUF kurang dikenal dan dianggap tidak kompeten oleh beberapa orang, meskipun band saya jauh lebih keren dari dua band di atas (menurut saya sendiri=) dengan berhasil mendapatkan 4 Label Rekaman (Blossom Records, Bon Vivant Records, Series Two Records, dan Edition 59) dari 4 Negara (Indonesia, Spanyol, USA, dan Jerman) di 3 Benua yang berbeda dalam waktu 1 tahun.
Dua, orang masih terjebak di gelar kesarjanaan untuk menghasilkan sebuah karya. Jangan salah sangka dulu, saya pun pada bulan april 2010 ini akan mendapatkan gelar sarjana S1 saya dan saya menjunjung tinggi pendidikan. Tapi dalam hal ini, gelar sarjana TIDAK MENJAMIN orang menjadi sukses. Sekarang saya tanya, musisi mana yang dibelakangnya ada gelar S.Sn (Sarjana Musik)? Atau ada berapa banyak musisi, di Indonesia saja lah, yang jualan lagunya meledak, yang punya gelar SARJANA MUSIK? Paling bisa di hitung dengan jari. Saya tidak merendahkan teman-teman yang punya gelar SARJANA MUSIK yang memang memilih untuk mengajar atau tidak berkecimpung di industri musik. Tapi ini adalah REALITA yang harus kita semua akui. Sebagus apapun kita membuat PRODUK, akan menjadi OMONG KOSONG jika kita tidak bisa menjualnya. Ada yang tahu band Vierra, yang personilnya anak dari pasangan Addie MS dan Memes? Sepengamatan saya, vokalis Vierra jika main live (bahkan di TV nasional) suarnya tidak pernah tidak fals a.k.a selalu fals! Tapi dalam jualan musiknya, saya setuju bahwa mereka bisa JUALAN musiknya. Bisa menjadi SALES bagi band mereka dan bagi diri mereka sendiri.
Kadang kita memang susah untuk MENJUAL diri kita karena kita terbentuk dengan lingkungan yang menyamarkan rendah hati dengan rendah diri. Beberapa bulan yang lalu saya melakukan beberapa interview akan calon AE untuk DAB MAGAZINE (YOGYAKARTA’S FINEST MUSIC MAGAZINE.) Kebanyakan dari calon-calon AE ini selalu kesulitan jika di beri pertanyaan apa keunggulan mereka dan kenapa saya harus menerima mereka? Bahkan ada beberapa yang dating dengan rasa tidak percaya diri ketika interview. Waw, saya sangat terkejut! Jika mereka saja tidak percaya dengan diri mereka sendiri, bagaimana saya dan teman-teman di DAB MAGAZINE (YOGYAKARTA’S FINEST MUSIC MAGAZINE) bisa memberi kepercayaan dengan mereka?
Pada awal tulisan ini saya membuat opini tentang produk bernama AUF dengan definisi Ganteng, bijaksana, suka menolong, karena saya ingin membentuk citra yang positif dan saya yakin dengan diri saya sendiri bahwa saya bisa menjadi positif. Dulu saya sering dianggap orang yang sombong, arogan, angkuh dll oleh beberapa teman. Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada teman-teman saya yang menyematkan predikat itu kepada saya karena saya jadi bisa membedakan antara SOMBONG dan MENJUAL DIRI. Pemahaman saya tentang sombong dan menjual diri antara lain sebagai berikut. Sombong tidak akan mendapatkan hasil apapun. Menjual diri akan mendapatkan hasil yang menguntungkan bagi diri sendiri dan orang lain. Contoh sederhana ketika dalam CV kita ketika melamarkerja, kita menuliskan berbagai macam keunggulan kita misalnya, berjiwa pemimpin, suka tantangan, rajin, tapi tidak ada satupun pengalaman yang mendukung keunggulan kita (pengalaman kerja, mupun organisasi), itu berarti kita sombong. Tetapi lain halnya jika kita menulis, pekerja keras, supel, ulet, lalu kita bisa memberikan lampiran pengalaman yang mendukung itu, itu artinya menjual diri.
Suka atau tidak suka, kita sebenarnya akan selalu menjadi PRODUK dalam keseharian kita, siapapun kita, dokter, dosen, arsitek, mahasiswa, musisi, anak, ibu rumah tangga,bahkan presiden. Entah itu dengan keluarga, teman atupun diri sendiri. Jadi jika kamu ingin PRODUK itu “laris,” mulailah belajar MENJUALNYA karena seperti saya bilang tadi "Sebagus apapun kita membuat PRODUK, akan menjadi OMONG KOSONG jika kita tidak bisa MENJUALNYA."
Jadi bagaimana? Apakah teman-teman sudah siap menjadi SALES?
Atau jika kata SALES masih terkesan “rendah” bisa kita ubah menjadi MARKETING MANAGER. Karena ada beberapa teman yang mungkin minder jika disebut sebagai SALES. Dengan menjadi MARKETING MANAGER paling tidak, kita sudah punya satu orang yang kita MANAGE dan kita PASARKAN, yaitu DIRI KITA SENDIRI=)
[Gunung Sempu, 15032010 1015-1241]


