"Orang pesimis melihat kesulitan di setiap kesempatan.
Orang optimis melihat kesempatan di setiap kesulitan."--Winston Churchill.
Selamat pagi! Tidak mengejutkan lagi bahwa rahasia untuk mendapatkan kehidupan yang kaya, penuh dan bahagia terletak di kalimat kedua kutipan ini. Setiap kali kita menghadapi sebuah kesulitan, kita mempunyai 2 pilihan:layu atau berkembang. Semua begitu sederhana. Kita bisa mengeluhkan kesulitan itu, menganalisisnya, tidak menyukainya, berpikir kalau itu tidak adil atau tidak sesuai--dan kita mungkin benar. Tapi, itu tidak masalah. Entah kita salah atau benar, kesulitan itu tetap ada. Kita bisa membuat kesulitan itu sebagai patung dalam kehidupan kita dengan memfokuskan diri padanya, atau kita bisa menghancurkannya dengan cara mengembangkan diri kita dan melewatinya.
Konsep ini bisa diterapkan untuk semua kesulitan--bukan hanya "hal-hal kecil." Saudara saya satu-satunya meninggal tiba-tiba saat saya berusia 23 tahun. Dia adalah kakak lelaki dan seorang figur ayah bagi saya, karena orangtua saya bercerai sesaat setelah saya lahir dan saya tidak berhubungan dengan ayah saya. Sebagian dari diri saya ingin "menjadi layu." Sebagian dari diri saya ingin menyerah, ingin mengutuk apa yang terasa tidak benar atau tidak adil. Kami adalah keluarga kecil yang terdiri dari 3 orang dan sekarang keluarga kami hanya tinggal 2 orang saja dan semua itu tampak tidak adil. Namun, sesuatu di dalam diri saya menolak untuk melemah.
Saya menggunakan pengalaman itu untuk menciptakan sebuah buku guna membantu orang lain yang berjudul, I Wasn't Ready to Say Goodbye:Surviving, Coping, and Healing after the Sudden Death of a Loved One. Pada saat itu (tahun 2000), tidak ada buku semacam itu. Saya mengarang buku itu bersama dengan seorang doktor yang saya kenal, Pamela J. Blair. Hanya sedikit yang saya ketahui saat Caleb meninggal kalau Amerika Serikat akan menghadapi tragedi dan kejutan dari kejadian 9/11. Buku ini menjadi buku tentang kesedihan yang laris di pasaran, dan saya menerima banyak surat, telkepon, dan e-mail dari mereka yang kehilangan keluarga dan teman pada serangan teroris itu. Sejak saat itu, saya terus menerima banyak surat yang menyentuh hati saya. Apakah ini semua membuat kematian kakak lelaki saya "benar" atau "adil"? Tentu saja tidak! Tapi, semua ini memberinya arti dan tujuan. Saya tidak "melemah" karena kematian kakak saya, namun saya mengambil pengalaman ini dan menggunakannya untuk membantu ribuan orang.
Cerita itu adalah contoh untuk menjadi seorang optimis yang sesungguhnya. Kita bukannya mengabaikan atau berpura-pura kalau tidak ada keburukan, tapi saat kita menghadapi hal buruk, kita menciptakan sesuatu yang lebih besar yang lebih penting. Meskipun kita mungkin kehilangan orang-orang yang kita cintai, harta benda, cinta, teman, kemampuan fisik--ada satu hal yang tidak akan pernah hilang dari diri kita:harapan!
Giliran Anda:
Di mana Anda melihat kesulitan, bukannya kesempatan? Bagaimana rasanya memindahkan patung batu "kesulitan" dan menggantikannya dengan tanah subur tempat harapan tyumbuh? Apa yang bisa Anda lakukan hari ini untuk mulai menghancurkan patung itu?
Tekad hari ini:
Saya menyapa setiap kesempatan dengan harapan.
=365 Hari Berpikir Positif - Brook Noel=
[Gunung Sempu, 10042010 0630-0645]
Orang optimis melihat kesempatan di setiap kesulitan."--Winston Churchill.
Selamat pagi! Tidak mengejutkan lagi bahwa rahasia untuk mendapatkan kehidupan yang kaya, penuh dan bahagia terletak di kalimat kedua kutipan ini. Setiap kali kita menghadapi sebuah kesulitan, kita mempunyai 2 pilihan:layu atau berkembang. Semua begitu sederhana. Kita bisa mengeluhkan kesulitan itu, menganalisisnya, tidak menyukainya, berpikir kalau itu tidak adil atau tidak sesuai--dan kita mungkin benar. Tapi, itu tidak masalah. Entah kita salah atau benar, kesulitan itu tetap ada. Kita bisa membuat kesulitan itu sebagai patung dalam kehidupan kita dengan memfokuskan diri padanya, atau kita bisa menghancurkannya dengan cara mengembangkan diri kita dan melewatinya.
Konsep ini bisa diterapkan untuk semua kesulitan--bukan hanya "hal-hal kecil." Saudara saya satu-satunya meninggal tiba-tiba saat saya berusia 23 tahun. Dia adalah kakak lelaki dan seorang figur ayah bagi saya, karena orangtua saya bercerai sesaat setelah saya lahir dan saya tidak berhubungan dengan ayah saya. Sebagian dari diri saya ingin "menjadi layu." Sebagian dari diri saya ingin menyerah, ingin mengutuk apa yang terasa tidak benar atau tidak adil. Kami adalah keluarga kecil yang terdiri dari 3 orang dan sekarang keluarga kami hanya tinggal 2 orang saja dan semua itu tampak tidak adil. Namun, sesuatu di dalam diri saya menolak untuk melemah.
Saya menggunakan pengalaman itu untuk menciptakan sebuah buku guna membantu orang lain yang berjudul, I Wasn't Ready to Say Goodbye:Surviving, Coping, and Healing after the Sudden Death of a Loved One. Pada saat itu (tahun 2000), tidak ada buku semacam itu. Saya mengarang buku itu bersama dengan seorang doktor yang saya kenal, Pamela J. Blair. Hanya sedikit yang saya ketahui saat Caleb meninggal kalau Amerika Serikat akan menghadapi tragedi dan kejutan dari kejadian 9/11. Buku ini menjadi buku tentang kesedihan yang laris di pasaran, dan saya menerima banyak surat, telkepon, dan e-mail dari mereka yang kehilangan keluarga dan teman pada serangan teroris itu. Sejak saat itu, saya terus menerima banyak surat yang menyentuh hati saya. Apakah ini semua membuat kematian kakak lelaki saya "benar" atau "adil"? Tentu saja tidak! Tapi, semua ini memberinya arti dan tujuan. Saya tidak "melemah" karena kematian kakak saya, namun saya mengambil pengalaman ini dan menggunakannya untuk membantu ribuan orang.
Cerita itu adalah contoh untuk menjadi seorang optimis yang sesungguhnya. Kita bukannya mengabaikan atau berpura-pura kalau tidak ada keburukan, tapi saat kita menghadapi hal buruk, kita menciptakan sesuatu yang lebih besar yang lebih penting. Meskipun kita mungkin kehilangan orang-orang yang kita cintai, harta benda, cinta, teman, kemampuan fisik--ada satu hal yang tidak akan pernah hilang dari diri kita:harapan!
Giliran Anda:
Di mana Anda melihat kesulitan, bukannya kesempatan? Bagaimana rasanya memindahkan patung batu "kesulitan" dan menggantikannya dengan tanah subur tempat harapan tyumbuh? Apa yang bisa Anda lakukan hari ini untuk mulai menghancurkan patung itu?
Tekad hari ini:
Saya menyapa setiap kesempatan dengan harapan.
=365 Hari Berpikir Positif - Brook Noel=
[Gunung Sempu, 10042010 0630-0645]


